
KingPantura- Di era informasi, penyebaran paham radikal merambah di dunia maya. Saat ini telah menjamur situs-situs radikal yang sering mengobarkan semangat jihadis dan anti pancasila. Tentunya, hal tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan berbangbangsa dan bernegara. Pemahaman ini jelas bertentangan dengan prinsip salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama (NU).
NU telah berkomitmen untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu diwujudkan dengan cara mengajarkan kepada masyarakat untuk mengedepankan sikap moderat dan toleran dalam kehidupan beragama.
Terkait dengan hal tersebut, NU memiliki “jurus” ampuh untuk menangkal ideologi transnasional dan tetap mempertahankan tradisi lokal demi keutuhan NKRI. Berikut cuplikan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA, di kediamannya, di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.
Seiring berkembangnya teknologi, penyebaran paham radikal merambah di dunia maya. Saat ini telah menjamur situs-situs radikal di internet. Menurut Bapak, seberapa besar bahaya yang ditimbulkan?
Sangat berbahaya. Di era digital, semua informasi tersedia di internet. Sekarang, kita bisa belajar merakit bom dari internet, tanpa harus ikut pelatihan di Timur Tengah. Kasus lain adalah revolusi Tunisia, Presiden Erden digulingkan dari tampuk kekuasaannya berawal dari protes tukang sayur di beranda Facebooknya. Kemudian menjalar ke seluruh negeri. Begitu besarnya pengaruh internet dalam penyebaran informasi.
Menjamurnya situs-situs radikal di dunia maya merupakan "metamorfosis" pergerakan kelompok Islam radikal dewasa ini. Mereka dengan bebas mengunggah materi-materi berbau radikal di internet. Dengan demikian, paham Islam radikal mudah tersebar dan sampai ke masyarakat. Sehingga, tak heran kalau banyak anak muda berhasil direkrut jaringan Islam radikal. Radikalisme menjadi salah satu ancaman besar bangsa Indonesia saat ini.
Maka, masyarakat harus lebih arif dan bijak mengkonsumsi segala informasi di internet, agar tidak salah melangkah. Sehingga, tidak terjebak dalam paham-paham yang mengancam keutuhan NKRI.
Menurut Bapak, apa ancaman paling serius yang dihadapi bangsa Indonesia dari maraknya situs radikal?
Reformasi yang menandai gerbang baru pemerintahan Republik Indonesia, terbebas dari tirani kepemimpinan yang otoriter. Berbalik menjadi euforia kebebasan tanpa kontrol yang baik. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komunitas, koran, penyebaran brosur berdiri dengan bebas tanpa izin pemerintah. Akhirnya, sering kebablasan. Kondisi ini bertolak belakang dengan era orde baru yang serba terkungkung.
Saat Soeharto menjadi presiden, ada pemaksaan ideologi. Ketika itu, masyarakat dipaksakan mengikuti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Kemudian di era reformasi sosialisasi empat pilar digagas oleh Pak Taufik Kiemas. Ide itu sangat bagus, namun tidak menyentuh pada tataran bawah, karena peserta seminar hanya kalangan terbatas. Itu pun yang hadir orang-orang berpendidikan semua.
Dampak dari euforia kebebasan pasca reformasi tersebut, mulai menjamur kelompok yang selalu meneriakkan bahwa dasar negara Indonesia itu thoghut. Mereka menilai dasar negara Indonesia tidak sesuai dengan syariat Islam, berlandaskan Q.S. al-Maidah: 44. Padahal, kalau mereka memahami lebih cermat dan tidak hanya memandang secara legal forlmal, pemerintahan Indonesia sudah islami. Syariat Islam tidak hanya berbentuk qishosh, namun juga meliputi pendidikan, kesejahteraan, serta akhlak.
Agenda pemerintah Indonesia adalah mencerdaskan bangsa, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan mempersolid persatuan bangsa. Semuanya itu merupakan perintah Allah, hal terpenting adalah Islam diamalkan menjadi model kehidupan kita sehari-hari. Jadi, tidak usah menyerukan negara Islam karena Indonesia sudah Islami.
Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, apa saja yang telah dilakukan NU untuk menjaga Islam pribumi dan keutuhan NKRI?
Sudah banyak sekali. Kontribusi NU tidak hanya menjaga keutuhan NKRI, bahkan ikut andil merebut kemerdekaan Indonesia. Salah satu ijtihad KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU, dalam mempertahankan keutuhan NKRI adalah membumikan ukhuwah wathoniah: menyatukan Islam dan nasionalisme.
Mbah Hasyim berpandangan bahwa Islam saja belum cukup menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk. Begitu pula, nasionalisme tanpa agama akan terasa kering. Keduanya harus saling berhubungan dan bersinergi untuk mendukung satu sama lain. Karena, cinta tanah air merupakan sebagian dari iman.
Pada muktamar di Banjarmasin tahun 1936, kiai-kiai NU memutuskan bahwa setelah merdeka mereka berkeinginan membentuk negara Darus Salam (negara damai), bukan Darul Islam (negara Islam). Artinya itu, negera nasional. Wahid Hasyim pun terpilih menjadi anggota dari tim sembilan yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Saat perumusan Piagam Jakarta, Wahid Hasyim setuju untuk menghapus tujuh kata dalam sila pertama Piagam Jakarta. Baginya yang terpenting negara Indonesia berdiri dulu.
Saat Gus Dur menjabat Ketum PBNU tahun 1984, ia mempertegas lagi bahwa Indonesia merupakan negara nasional. UUD 1945 dan pancasila sudah final sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia. Gus Dur melihat, ide mendirikan negara Islam hanya memperkeruh kondisi bangsa ini. Jika kita tidak pandai-pandai membawa Islam, maka akan mudah dimanfaatkan untuk memecah belah bangsa Indonesia.
Jadi, sejak dulu NU terus berkomitmen menjaga keutuhan NKRI dengan mengajarkan kepada masyarakat tentang ajaran Islam yang rahmatal lil alamin: damai, ramah, moderat, dan toleran.
Lantas menurut Bapak, apa yang harus dilakukan untuk menekan maraknya paham radikal?
Kita harus memperkuat pemahaman yang telah diajarkan Walisongo. Mengedepankan dakwah bil hikmah (dakwah menggunakan kebijaksanaan). Yakni, sikap santun, tidak menghapus, dan memusuhi tradisi lokal. Buktinya hanya dalam waktu 50 tahun, Walisongo mampu mengsilamkan mayoritas penduduk tanah Jawa, tanpa peperangan dan pertumpahan darah.
Para wali menyebarkan Islam dengan budaya dan pemikiran, sehingga Islam bisa menyatu dengan kondisi sosial masyarakat yang sudah ada sebelumnya. Konsep dakwah semacam ini menjadi wajah Islam Indonesia. Misal, para wali memoles tradisi sesajen menjadi selametan. Awalnya, sesajen dipersembahkan untuk roh jahat, diubah menjadi shodaqoh untuk tetangga sekitar. Begitulah Walisongo berdakwah dan terlibat dalam kehidupan masyarakat di lingkungan masing-masing.
KOMENTAR