
Idul Adha merupakan hari raya bagi umat Islam selain Idul Fitri. Tetapi tidak seperti penentuan Idul Fitri yang kerap memunculkan perdebatan, Tak banyak pihak yang meributkan dalam penentuan hari raya Idul Adha. Hampir semua umat Islam di Indonesia merayakan selebrasi hari bahagia tersebut tanggal 15 oktober 2013 M bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1434 H.
Dalam bulan Dzulhijjah umat Islam dari seluruh dunia tak terkecuali Indonesia menunaikan kewajiban haji di makkah karena ibadah haji hanya dilakukan di bulan tersebut. Ibadah haji merupakan rangkain ritual agama yang tak bisa terpisahkan dengan perayaan Idul Adha, menurut penulis faktor ini yang mungkin menjadi salah satu alasan perayaan Idul Adha di Indonesia dilaksanakan serempak pada hari yang sama.
Di samping pelaksanaan ibadah haji, dalam bulan tersebut umat Islam disunahkan untuk melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih sapi atau kambing sebagai bentuk ketaatan atau pengorbanan seorang hamba kepada tuhannya. Peristiwa kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh tuhannya untuk menyembelih putranya Isma’il. Ajaran ini dijalanan umat Islam sampai sekarang dengan menyembelih hewan ternak.
Hewan-hewan yang telah disembelih, dagingya akan dibagikan kepada para tetangga dan orang-orang yang kurang mampu. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk seruan Islam mendorong para pemeluknya untuk selalu peduli terhadap sesama dan membumikan semangat solidaritas yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, akan terwujud nilai-nilai tarahum yang merupakan esensi dari ajara Islam dan sebagai bentuk transformasi rohmatal lil’alamin dalam kehidupan yang majemuk.
Teks sesuai konteks
Memahami ajaran agama tidaklah cukup secara tekstual, melainkan paham akan dimensi terdalam ajaran itu: pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Untuk sampai pada dimensi terdalam itu, perlu sekiranya menemukan ide moral suatu teks suci yang menjadi dasar sebuah ajaran.
Menurut Fazlur Rahman, dalam mendeteksi ide moral sebuah ajaran, perlu memahasi sosio historinya. Kemudian baru melakukan pembacaan ulang dengan mempertimbangkan aspek makro dan mikro ayat itu diturunkan. Lalu, menerapkan nilai dan prinsip umum pada konteks saat ini. Sehingga, kita membedakan mana nilai yang bersifat parsial dan yang bersifat universal.
Dalam konteks ini, ibadah kurban hendaknya dipahami dengan makna yang luas: berusaha untuk menanggalkan ego promodial masing-masing organisasi masyarakat (ormas) Islam yang ada. Kalau ego primodial tetap dibiarkan subur di tengah-tengah masyarakat, akan menghambat laju persatuan dan kesatuan umat. Tentunya bisa berakibat buruk pada kemaslahatan umat beragama sendiri. Ini jelas tidak boleh diabaikan.
Maka, sudah sepatutnya tokoh ormas menjadi garda terdepan dalam memerangi ego primodialisme. Mereka tidak boleh terjebak dalam cekcok penetepan Idul Adha. Melainkan, momentum ini menjadi refleksi untuk mendahulukan kepentingan bersama: kesatuan dan persatuan umat dalam satu payung Indonesia.
KOMENTAR