Keadaan Masyarakat Arab Saat Muhammad Lahir



            Dahulu, kehidupan umat manusia berada dalam suasana kedzaliman dan kejahiliahan selama dua abad lebih, yaitu dari abad ke-VI dan ke-VII M. Hal-hal seperti paganisme (ketiadaan agama), penyembahan terhadap berhala-berhala, tahayul, fanatisme-kesukuan, kekabilahan dan kelas sosial, dan berbagai macam bentuk penyimpangan sosial serta penyalahgunaan kekuasaan telah menyebar ke berbagai penjuru. Rasulullah menggambarkan realitas ini dalam sabdanya, “Sesungguhnya Allah melihat keadaan para penghuni dunia ini, sehingga Dia sangat murka terhadap mereka semua; bangsa Arab maupun non-Arab, kecuali sisa-sisa dari ahli kitab.”
            Agar kita mengetahui bagaimana sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW membawa ajarannya dengan berbagai macam doktrin dan nilai-nillai moralnya dalam membangun peradaban manusia di sepanjang periode tersebut, maka akan kami paparkan dalam beberapa halaman berikut secara ringkas.
KONDISI JAZIRAH ARAB
A.     Kondisi Politik
1.      Kekuasaan di Yaman
Seperti yang sudah diceritakan dalam Al-Qur’an, kabilah tertua dari Bangsa Arab yang terkenal di Yaman adalah Kaum Saba’. Yaman pernah berjaya selama 11 abad, namun berakhir pada tahun 300 M saat Kabilah berhasil mengalahkan kerajaan mereka. Kemunduran mulai menghampiri Yaman. Satu persatu Kabilah al-Qahthaniyah melakukan hijrah ke berbagai negara. Berbagai kekacauan dan perang saudara mendera mereka selama 270 tahun sebelum Islam masuk ke Yaman. Dari kondisi inilah yang menyebabkan mudahnya dijajah oleh orang-orang asing yang berlangsung sampai tahun 78 M. Setelah itu Yaman merdeka. Tetapi, belum lama Yaman merasakan kemerdekaannya, Allah SWT mengirimkan air bah kepada mereka pada tahun 450 M/451 M, yang mengakibatkan hancurnya bendungan Siddah Ma’rib.
            Pada tahun 523 M, Raja Dzu Nuwas menyerang kaum Nasrani agar mereka meninggalkan agama mereka. Namun, mereka menolak dan melawan. Atas penolakan teresbut, Dzu Nuwas membaakar mereka di dalam parit yang telah dibuatnya. Dari peristiwa ini, maka Romawi membujuk Bangsa Habasyah untuk menjajah Yaman untuk kedua kalinya pada tahun 525 M di bawah komando Aryath.
Setelah Aryath dibunuh oleh Abrahah, salah satu komandan pasukannya, kepemimpinan berpindah tangan kepada Abrahah. Tak lama kemudian, Abrahah pernah berniat untuk menghancurkan Ka’bah di Mekah. Tetapi Allah membinasakannya bersama dengan pasukannya seperti yang sudah diceritakan dalam surat al-Fiil.
            Kemudian Bangsa Yaman meminta bala bantuan dari Negara Persia untuk melawan Habasyah. Pada tahun 575, perlawanan itu pun berhasil, di bawah kepempipinan Ma’di Karb. Lalu Ma’di Karb diangkat menjadi raja mereka. Akan tetapi, setelah itu terjadi pengkhianatan dan pembunuhan. Khosrow Persia mengambil alih jabatan dan memasukkan Yaman ke dalam wilayah Persia. Pejabat terakhir dari Persia yang bernama Bazan, akhirnya masuk Islam. Sehingga pengaruh Persia di Yaman lambat laun hilang.
2.      Kekuasaan di Hirah
Pada tahun 557-529 SM, Persia berkuasa atas Iraq dan wilayah sekitarnya setelah Qurusy al-Kabir berhasil menyatukan mereka. Pada tahun 326 SM, Al-Iskandar al-Maqduni memecah kekuatan tersebut setelah ia membunuh raja mereka, Dara I. Setelah itu, di tahun 330 M, negeri tersebut berada di bawah kekuasaan ath-Tawaif.
Kemudian, Ardasyir al-Farisi menyatukan Bangsa Persia dan menguasai Bangsa Arab yang tinggal di wilayah kekuasaannya. Di waktu yang sama, kaum Hirah dan al-Anbar juga tunduk pada kekuasaan Ardasyir. Karena kesulitan dalam mengatur daerah-daerah yang jauh itu, maka diangkatlah seorang raja Mudhaimah al-Wadhdhah.
Raja Hirah yang terkenal kala itu ialah an-Nu’man dan al-Mundzir, raja yang mengorbankan semangat melawan Persia. Ia menyerang tentara Persia di sebuah tempat bernama Dzu Qar setela kelahiran Rasulullah SAW.
3.      Kekuasaan di Syam
Awalnya, Syam adalah tempat pelarian dari Kabilah Qudha’ah saat Jazirah Arab terjadi gelombang eksodus dari para kabilahnya. Mayoritas dari mereka adalah dari kerabat Bani Dhaj’am ibn Salih, atau lebih dikenal Suku al-Dhajama’ah. Tak lama kemudian Ramawi menyatukan mereka untuk mencegah punahnya Bangsa Arab dan menjadi alat untuk melawan Persia. Lalu mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi raja. Sebelum mereka dikalahkan oleh Bangsa al-Ghassasinah, kekuasaan ini sempat bertahan cukup lama dan mengalami pergantian raja berkali-kali. Dalam menjalani pemerintahannya ia pun masih tunduk pada pengawasan Romawi sampai terjadi peristiwa Yarmuk (13 H/634 M). Raja terakhir mereka, Jabalah ibn al-Aiham masuk Islam pada pemerintahan Umar ibn Khatab ra.
4.      Kekuasaan Hijaz
Berbeda dengan wilayah lainnya, wilayah ini hampir belum pernah ada satu kekuasaan pun yang tumbuh dan pantas disebut negara. Namun, banyak berdiri kota-kota dan setiap kota memiliki sistem pemerintahan yang lebih mendekati pada pola kekuasaan al-Masyikhah (pemimpin dipegang oleh seorang syeikh), bukan memakai sistem kerajaan. Kota yang terkenal saat itu di antaranya adalah Mekah, Yastrib, dan Thaif.
a.       Mekah
Penduduk asli Mekah adalah Suku al-Jurhum. Sepennggal Isma’il, mereka tidak bisa menjaga kemuliaan tanah Haram. Banyak kemaksiatan dan kerusakan moral mulai merajalela. Mereka berani mencuri harta kekayaan Ka’bah. Di kala itu pun mata air Zamzam mengering dan tak lagi mengeluarkan air. Sehingga kemashuran sumur Zamzam pun hilang.
Mekah saat itu dikuasai oleh Tsa’labah dengan kaumnya yang bernama Kaum Khaza’ah. Kaum Tsa’labah berkuasa atas urusan Ka’bah selama hampir 300 tahun. Saat itu, terjadi peperangan antara Qusay ibn Kilab, dibantu oleh Suku Quraisy dan Kabilah Qudha’ah, serta kabilah arab lainnya. Peperangan ini menghasilkan perjanjian yang alot dan penyerahan kekuasaan atas Ka’bah kepada Qusay ibn Kilab. Dari sinilah Suku Quraisy mulai diakui keberadaannya dan disegani di kalangan Bangsa Arab.
Saat kepempipinan Qusay, ia membagi Mekah menjadi empat daerah kekuasaan di antara kaumnya. Ia juga mendominasikan orang Quraisy yang menduduki posisi kekuasaan di Mekah. Qusay juga mendirikan Daru an-Nadwah, sebuah lembaga peradilan untuk menyelesaikan setiap perselisihan dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Selain itu, Qusay juga mewajibkan kepada warga Quraisy untuk membayar pajak tahunan guna menolong kaum fakir dan jama’ah haji.
Disaat Qusay mulai beranjak tua, ia pun menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya yang pertama, yaitu Abdu al-Dar. Sepeninggalnya juga terjadi perebutan jabatan di antara saudara-saudaranya; Abdu Manaf, Abdu Syam dan Abdu. Alhsil, terpecahlah mereka menjadi dua kelompok besar; kelompok pendukung Bani Abdu al-Dar dan kelompok pendukung Bani Abdu Manaf.
Namun, pertengkaran itu tidak berlangsung lama. Pada akhirnya kedua kelompok tersebut sepakat untuk memberikan hak pengurusan penjamuan dan pengairan kepada Bani Abdu Manaf, sedangkan hak pengamanan Ka’bah, kepemimpinan militer dan Daru an-Nadwah diberikan kepada Bani Abdu al-Dar. Sampai pada zaman Rasulullah, tepatnya setelah penaklukan Mekah, penanganan kedua urusan ini diberikan oleh Abbas ibn Abdul Muthallib. Sementara pengamanan Ka’bah, Rasulullah masih mempercayakan urusan pengamanan Ka’bah kepada Bani Abdu ad-Dar dan menyerahkan kunci Ka’bah kepada Usman ibn Thalhah, bahkan sampai sekarang.
b.      Yastrib (Madinah)
Yang pertama kali menempati Yatsrib adalah Kabilah Amaliqah. Beberapa waktu kemudian, terjadi peperangan antara Rumawi dan Bangsa Yahudi yang setelah peperangan itu sebagian Bangsa Yahudi mengungsi ke Yatsrib dan hidup menetap di sana. Disusul beberapa waktu setelah itu, Suku Aus dan Khazraj dari Yaman bergabung dengan mereka.
Awalnya mereka bisa saling hidup berdampingan satu sama lain. Tetapi setelah Suku Aus dan Khazraj bertambah kuat, menimbulkan kemarahan bagi Bangsa Yahudi. Akhirnya terjadilah peperangan dan pertikaian di antara ketiga suku tersebut. Setelah peperangan dan pertikaian itu terjadi, bahkan hingga kaum Yahudi hampir meninggalkan kampung mereka, mereka pun bisa berdamai dan sepakat untuk mendirikan sebuah kepemerintahan di Yatsrib.
Di tengah persiapan rencana tersebut, Rasulullah tiba di Madinah dan mayoritas penduduknya lebih memilih untuk patuh pada pemerintahan Islam. Beberapa penolakan terjadi, seperti dari pemimpin Aus, Abu Amir ibn Shaifi ibn an-Na’man, dan Abdullah ibn Ubay. Berbeda dengan yang lain, awalnya Abdullah ibn Ubay memang tidak setuju dengan hal tersebut. Namun karena mayoritas masyarakat sepakat demikian, ia pun masuk Islam dengan setengah hati.
c.       Thaif
Kota Thaif pada zaman jahiliyah lebih dikenal dengan kota Waj. Nama ini dinisbatkan kepada Waj ibn Abdul Hay, pengemuka dari Bani Amaliqah yang merupakan penduduk asli daerah ini. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah Kabilah Hawazan dari lembah al-Qura untuk menetap di kota ini. Penduduknya mayoritas dari Bani Tsaqif –keturunan dari Qasab ibn Munabbih yang menikah dengan gadis dari  Amir al-Adwani. Setelah berkembang dan semakin banyak mereka membangun pagar keliling yang mengelilingi tempat mereka semua bagaikan benteng. Pagar inilah yang dikenal dengan sebutan ath-Thaif (yang mengelilingi).
Setelah Islam datang, mereka terpecah menjadi dua kelompok, Bani Malik dan al-Ahlaf. Di antara kedua kubu ini, mereka saling mendendam dan melakukan peperangan. Peperangan ini dimenangkan oleh al-Ahlaf, sampai-sampai Bani Malik diusir ke sebuah lembah dipinggiran kota Thaif. Setelah itu, peperangan masih berlangsung namun tak cukup berarti  di antara mereka.
B.     Kondisi Keagamaan Bangsa Arab di Jazirah Arab
Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa Bani Khaza’ah berkuasa atas Ka’bah selama kurang lebih 300 tahun. Tetapi, mereka menyalahgunakan kekuasaannya atas Ka’bah. Mereka yang pertama kali menaruh berhala-berhala dan menjadi penyembah berhala yang pertama di Hijaz. Amru ibn Luhaylah yang membawa berhala bernama Habal dan mengenalkannya pada penduduk Mekah.
Di tempat terpisah, Kabilah Khaulan memiliki sebuah patung berhala yang bernama Ammu Anas. Sedangkan Bani Malakan bernama Sa’ad. Berhala-berhala itu tak hanya disembah saja, mereka juga memberikan persembahan seperti menyembelih binatang ternak dari hasil perternakan mereka.
Ajaran-ajaran Ibrahim makin lama makin terkikis dengan kemusyrikan mereka, hingga tersisa sedikit sekali. Bahkan ajaran yang tersisa ini juga tercampur dengan unsur-unsur kemusyrikan yang tidak diajarkan dalam agama Ibrahim. Contohnya saja dalam hal pemulian Ka’bah, masyarakat Arab mencemarinya dengan membuat rumah-rumah berhala khusus (Thaqut) yang mereka muliakan sebagaimana mereka memuliakan Ka’bah.
Di Yaman juga berkembang ajaran yang menyembah matahari sebagaimana keterangan Al Quran tentang kaum saba’. Beberapa aliran kaum Majusi yang berasal dari Persi telah masuk ke daerah Arab. Penganut majusi di wilayah Tamim yang dikenal bernama Zurarah dan Hajib ibn Zurarah, adapun dari Quraisy adalah aliran Zindiq yang diambil dari Hirah dan ke wilayah Hajar dari Bahrain.
Agama Yahudi masuk ke jazirah Arab khususnya di Madinah, Wadi al Qura, Fadak, dan Taima. Di Yaman juga masuk Yahudi dan dianut oleh raja kerajaan Himyar yaitu Dzu Nuwas dan juga memaksakan rakyat untuk memeluk Yahudi yang asalnya Nasrani. Selain itu juga ke kalangan Bani Kinanah dan Bani Haris ibn Ka’ab, kaum Yahudi Yastrib dan Khaibar juga berperan  menyebarkan agama mereka.
Agama Nasrani juga berkembang di Ghasinnah dan Manadzirah. Ada beberapa biara terkenal di  kota Hirah adalah biara Hindun al Aqdam, biara Lahaj, biara Harah. Agama Nasrani begitu berkembang di daerah Jazirah Arab bagian selatan  dan mendirikan gereja di Dhaffar dan Adn.
                Pada kesempatan lain, ada beberapa kabilah yang beragama nasrani. Salah satunya adalah Bani Asad ibn Abdul Uzza, selain itu juga oleh Bani Amri al Qais dari kabilah Tamim, Bani Taglab dari suku Rabiah, dan sebagian Bani Qudhaah. Mereka mendapatkan ajaran kristen dari bangsa Romawi, salah satunya adalah Abi ibn Hatim.
            Dari sejarah dan perkembangan kedua agama tadi, yaitu Yahudi dan Nasrani tidak begitu berkembang di Arab, sebaliknya penganut dari agama Ibrahim tidak seluruhnya punah. Mereka hidup di antara para penyembah berhala, mereka masih megikuti agama Ibrahim walaupun berjumlah sedikit. Mereka menyebut dirinya sebagai al hunafa  yaitu orang yang mengikuti ajaran yang lurus dan benar. Mereka yang beriman kepada Allah, meng Esa kan, dan menantikan datangnya seorang nabi yang dijanjikan.
            Diantara orang orang yang masih berpegang pada agama Ibrahim adalah:
Zaid ibn Amru ibn Nafil
            Ibnu ishaq berkata: Asma binti Abu Bakar menuturkan, aku melihat Zais bin Amru bin Nafil menyandarkan punggungnya ke ka’bah serta berguman tentang bagaimana cara yang paling disenangi untuk meyembah Allah, maka ia akan melakukannya, ia juga berikrar bahwa agama yang ia anut adalah agama Ibarahim. Selain itu beliau juga menentang atas tindakan kaum Jahiliah menguburkan anak perempuan dan bernasehat untuk mengurusnya sampai ia dewasa.
            Bukhari juga menuturkan dari Ibnu Umar tentang Zaid pernah pergi ke Syam untuk mencari agama yang benar untuk dianutnya. Dalam perbincangan dengan Yahudi, ia diberi pengertian tentang agama hanif sebagaimana agama yang dianutt oleh Ibrahim, ia tidak Yahudi bukan pula Nasrani. Dan ia juga tidak menyembah selain Allah semata.
            Begitupula, Zaid bertemu dengan pemuka Nasrani dan terlibat dalam perbincangan tadi. Setelah mendengar penjelasan tentang agama Ibrahim dari mereka, lalu beliau keluar dari Syam. Sesampainya di luar Syam, beliau melakukan persaksian atas agama Ibrahim. Zaid adalah sosok pencari agama yang benar dan berketatpan hati pada agama Ibrahim. Zaid ibnu Amru juga sempat bertemu dengan Rasulallah dan meninggal sebelum beliau diutus menjadi seorang nabi.
Waraqah Ibn Naufal
            Waraqah bersama dengan Zaid ibnu Nafil pergi bersama unruk mencari agama yang benar untuk dianutnya Zaid bersiteguh untuk memeluk agama Ibrahim.                       Pada suatu ketika Rasulallah berkata. Akan tetapi, Waraqah lebih memilih untuk bergama Nasrani, sedangkan kepada Khadijah bahwa beliau melihat sebuah sinar dan khwatir bahwa sinar tersebut adalah jin, maka Khadijah menentramkan beliau.
            Kemudian Khadijah menjumpai waraqah dan berkonultasi dengannya tentang apa yang terjadi dengan Muhammad, seraya Waraqah berkata, Apabila ia benar, maka sinar tetrsebut adalah wahyu sebagaimana wahyu yang diturunkan kepada  Musa, dan apabila Muhammad menjadi Nabi dan akau masih hidup niscaya akau akan membantu dan beriman kepadanya.
Quss ibn Saidah al Iyyadi
            Ubadah dan para rawi lain menuturkn bahwa ketika para utusan Iyad datang menemui Rasulallah, beliau menanyakan tentang Quss bin Saidah. Mereka mengatakan bahwa ia telah meninggal dunia. Maka, Rasulallah bersabda bahwa belaiu pernah melihatnya di Ukhzzah, ia berada di atas seekor unta dan mengatakan beberapa kalimat yang snagat bagus, namun Nabi tidak begitu menghafalnya. Kemudian salah satu dari utusan mengaku bahwa ia masih hafal ucapan Quss. Dalam ucapan Quss menceritakan tentang ayat ayat yang telah dibentangkan oleh Allah, dan heran mengapa orang tidak mempercayainya. Ia mengibaratkan orang yang meninggal atau mengabaikan dengan orang yang hanya menumpang tidur. Quss bersumpah dengan keyakinannya dan tidak memilki keraguan sedikitpun.
Umayyah Ibn Abi Shalat
            Nama ini pernah disebut sebut Rasul bahwa ia telah memeluk Islam, dalam riwayat lain menyebutkan bahwa ia telah memeluk islam dalam syairnya. Umayyah adalah dianatara pemeluk agama Ibrahim yang akhinya memilih Nasrani dan banyak syair beliau mengandung makna ketauhidan, hari kiamat, dan hari kebangkitan. Umayyah adalah penyair pada masa nabi hidup, akan tetapi ia tidak beriman karena faktor gengsi harus mengikuti Rasul, ia meninggal tahun ke 9 atau 2 H. Ia pernah mengarang syair tentang kedukaan atas banyaknya orang Qurais yang tewas pada perang Badar Kubra.
Labid Ibn Rabiah al Amiri al Kilabiy al Jakfari
            Beliau termasuk penyair yang ulung jaman jahiliah, juga sebagai seoarang penyair yang kritis. Rasul pernah berkomntar tentang Labid bahwa ia adalah penyair yang paling tepat terlontar dari mulutnya, ia mengatakan bahwa Ingatlah, segala sesuatu selain Allah itu batil.
            Labid meninggal setelah masuk islam, pada masa khalifah Utsman bin Affan, disebutkan bahwa umur beliau 150 tahun. Namun dalam riwayat mengatakan 50 tahun.
            Selain nama nama di atas ada banyak tokoh lain yang memeluk agama hanif, diantaranya: Arhab ibn Riab, Suwaid ibn Amiral Mustahiliqi seorang penyair ternama, Asad Abu Karab al Himyari, Waqi ibn Salamah ibn Zubair al Iyyadi, Umair ibn Haidzab al Juhni, Adi ibn Zaid al Ubbadi yang akhirnya memeluk Nasrani, Abu Qais Surrah ibn Abi Anas al Bukhori, Saif ibn Dzi Yazan al Humairi, Amir ibn Dharab al Adawi, Abdul Thaniijah ibn Tsalab ibn Wabrah ibn Qudhaah, Alaf ibn Syihab at Tamimi, Multamis ibn Umayyah al Kanani, Suhair Ibn Abi Salma, Khalid ibn Sinnan ibn Ghaits al Abasi, Abdullah al  Qudai, Ubaid ibn Abrash al Asadi, Kaab ibn Luay ibn Ghalib al Quraisy, salah seorang kakek Rasulallah. Utsman ibn Huwairits yang akhinya memeluk Nasrani dan mendapat kedudukan dari Kaisar Romawi. Amru ibn Absah as Silmi yang akhirnya memeluk Islam , Aktsam ibn Shaifi ibn Rabah dan Abdul Muthalib.

C. Kondisi Sosial Masyaakat Arab Jahilliah

            Situasi yang terjadi dan kondisi di masyarakat tidak akan terlepas dari kondisi politik, ekonomi, dan keagamaan di suatu masyarakat tersebut. Begitu pula yang terjadi di Arab pada waktu itu bahwa menyembah berhala merupakan perilaku yang lazim, padahal hal tersebut bertentangan dengan fitrah manusia dan logika. Imbasnya, fenomena sosial yang terjadi juga menyeleweng dari koridor yang ada.
            Diantara bukti nyata dari fenomena tersebut adalah pengikisan moral di tengah masyarakat Jahiliah Arab. Hal tersebut juga nampak dari perilaku menyimpang yakni, seperti meminum minuman keras, judi, nikah tanpa batas, pembunuhan anak anak khusunya perempuan karena dianggapa aib bagi keluarganya dan dan banyak konflik antar kelompok hanya karena masalah yang remeh.
            Bukhori dan Abi Daud meriwayatkan dari Aisyah beberapa bentuk perkawinan yang terjadi di Arab Jahilliah, diantaranya: Pertama perkawinan sebagaiamana pernikahan yang lazim kita kenal. Kedua perkawinan istibdha yakni, kawinnya seorang laki dengan istri orang lain setelah menggaulinya pada saat suci dan belum digauli oleh suami yang sah. Ketiga, perkawinan Rahth,  dimana perkawaian yang terjadi setelah sekelompok dari laki dan sepakat untuk menggauli seorang perempuan yang bukan istri mereka secara bergiliran, setelah kelahiran wanita tersebut dihadirak dihadapan sejumlah laki laki tadi dan memlih bapak dari anak yang telah dilahirkan. Keempat, Perkawian Rabi, diaman sejumlah laki menggauli seorang wanita yang ruamhnya diberi tanda, dan setelah lahir seorang wanita tersebut memilih laki laki tadi yang memilki banyak kemiripan.
            Ironisnya mereka tidak malu melakukan hal tersebut dan tidak merupakan aib. Selain itu, di Arab  juga tidak membatasi talak pada masa Jahiliah oleh karena itu mereka seenaknya menjatuh talak dan merujuk kembali sampai berkali kali. Maka Islam datang melarang pernikahan yang amoral tersebut dan membatasi maksiaml 2 kali saja.
            Walaupun begitu banyak perilaku amoral yang dilakukan oleh mereka, namun mereka memilki segi positif dan mungkin yang menjadi dasar mengapa islam diturunkan di sana. Diantara hal tersebut adalah: Pertama, Jahiliah yang terjadi tidak mengakar dan kemauan yang teguh dalam memegang keimanan. Kedua,  kebanyakan masyakat menjunjunjung nilai keutamaan dan orang yang berakhlaq baik. Ketiga, masayakat Arab memilki daya ingat yang kuat, hal tersebut bisa dibuktiaj dadri para shabat yang banyak meyimpan hadis. Selain itu, mereka juga meyukai kebebasan dan masih mengaku Allah walau mereka meyembah berhala. Dan mereka memiliki bahsa Arab yang istimewa, jelas dan mampu mendiskripsikan islan secara gambalang

II. Kondisi di Luar Kawasan Jazirah Arab

a.      Kondisi Keagamaan, Politik dan Sosial Masyarakat Yahudi
1.      Kondisi Keagamaan
            Sebelum kedatangan Islam, banyak ajaran samawi yang sudah melenceng jauh dan disimpangkan dari makna aslinya. Al Quran melalui ayat menyebutkan bahwa banyak bentuk penyimpangan yang dilakukan yang akan dibahas nanti. Banyak buku yang membahas tentang Yahudi dianataranya: arRadhu as Shahih ala Man Badala Din al Masih, karya Ibnu Taymiyyah.
            Pada awal turun, Yahudi adalah agama yang mengesakan Allah. Namun seiring waktu mereka mengingkari hal tersebut dan mencampuradukan dengan bentuk macam akidah penyembah berhala. Ada yang mendasri mengapa Nabi begitu murka dengan bangsa Israel dikarenakan paganisme yang kuat dengan diri mereka, dan penyebutan yang tidak pantas untuk dzat Allah, wahyu, nabi Nya dan hal yang disampaikannya.
            Selain itu, mereka Yahudi juga melontarkan pelbagai tuduhan yang tidak mendasar semisal tentang pengusiran Adam. Menurut anggapan mereka, jika Adam memakan buah Khuldi akan menyaingi Allah. Dan masih banyak lagi tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang Yahudi. Mereka juga merubah kisah Nabi demi kepentingan mereka untuk memperbudak ataupun menghinakan kaum yang selain mereka.  Sungguh hal ini ironi, mereka melakukan tuduhan dan meghina kaum lain dengan mengatasnamakan wahyu. Di lain kesempatan mereka juga menuduh kaum wanita non Yahudi sebagai pelacur dan bangsa Yahudi berhak membunuh orang non Yahudi dan beranggapan bahwa hal tersebut adalah persembahan kurban kepada Tuhan.
            Mereka juga menuduh bahwa Nabi Ibrahim adalah Mucikari dadri Sarah untuk memenuhi ketamakan dan nafsu keduniaan dengan meminta kepada Firan. Selain itu juga, mereka menuduh nabi Yakub mencuri kenabian dengan cara yang kotor dan mengahasud anak yakub yang bernama Dina sebagai seorang pezina. Selain itu mereka juga menuduh Maryaam sebagai seorang pezina dengan tentara yang bernama Pandora dan  Isa bin Maryam adalah anak zina. Dan menilai Isa sebagai seorang pendusta, pembohong, gila, penyihir, penipu dan penyembah berhala. Tak luput pula dari hujatan Yahudi, Daud yang notabene sebagai nabi mereka menuduh telah sengaja meyuruh panglima untuk mati di medan laga demi menikahi wanita dari  istri panglima tersebut.
 Semua ini merupakan hujatan yang tidak memilki dasar, tidak mungkin kata kata seperti ini berasal dari Allah. Oleh karena itu, buku itu tidak bisa mnejadi pegangan denngan tersebut.
Al Quran sering menyoroti perilaku dari Yahudi yang sudah kebablsan. Diantaranya: Kecondongan untuk menyembah berhala, walau Nabi Musa masih hidup, Sepeninggal Musa mereka tetap melakukan paganisme, Pembangkangan dan perlawana dengan Musa dan ajaranya, Ketidaksopanan mereka terhadap Allah, Keberanian mereka menisbahkan manusia sebagai Tuhan, Menjadikakn Rahib mereka menjadi Tuhan selain Allah, Keengganan mereka untuk meninggalkan berbagai perilaku yang menyimpang.

b.      Kondisi Politik dan Sosial Masyarakat Yahudi
            Allah tidak menurunkan agama yang jauh dari nilai kemanusian dan rasialis. Namun, orang Yahudi justru melecengkan tujuan dari agama yang dekat dan menjadi rahmat bagi seluruh manusia. Mereka banyak memfitnah Nabi Nabi dengan tanpa disertai dasar menisbatkan sifat yang buruk dan keji terhadap mereka. Maka tidak heran banyak konflik dan perseteruan dengan umat lain sampai sekarang.
            Sebagai contoh mereka Yahudi senantiasa menyulut api perpecahan dan peperangan antara kaum Aus dan Khazraj di Madinah. Selain itu mereka juga melakukan monopoli perdagangan di Arab dan mengeksploitasi mereka demi kepentingan golongan mereka sendiri. Ketika Rasulallah sampai di Madinah, yahudi selalu memusuhi dakwah Rasul dan berusaha menghalangi. Namun berkat pertolongan Allah mereka tertipu terlebih dahulu, begitu juga di masa Umar bangsa Yahudi berhasil diusir karena mereka dikenal sebagai kaum yang berperilaku jahat dan buruk moralnya.
            Al Quran banayk menggambarkan tentang perbuatan Yahudi yang jauh dari kebaikan, depresi jiwa dan kerusakn moral yang menjangkit mereka pada abad ke 6 sampai abad ke 7. Dari sinilah, akibatnya mereka tidak lagi layak untuk memimpin bagi seluruh umat manusia di dunia ini.
B. Kondisi Keagamaan, Politik dan Sosial Umat Nasrani
A.    Kondisi Keagamaan
Selain di agama Yahudi, namun juga pada agama Nasrani. Sebagaimana yang diutarakan oleh Dr. Muhammad Abu al Ghaidz terhadap sejarah bagian kitab Injil dan sejauh mana keabsahan dari penisabatan bagian bagian tersebut terhadap penulisnya. Diketemukan beberapa kesimpulan, yakni: Pertama  terdapat keterputusan terhadap penisbatan tersebut.
            Kedua, hilangnya teks asli  Injil yang berbahasa Ibrani sebelum dilakukan penerjemahan dan tidak dicantumkannya nama penerjemah tersebut mengurangi kredibilitas isi Injil itu sendiri. ketiga Markus bukan termasuk golongan hawariyin (pengukut Isa a. s). Ia menulis Injil dari gurunya, Brutos. Keempat, Injil Lukas pun belum bisa merepresentasikan apa yang ditulis pendahlunya. Lukas sendiri bukanlah pengikut Isa, tetapi diduga sebagai salah satu murid Paulus yang diduga kuat sebagai otak penyelewengan dan pemalsuan ajaran Nasrani.
Begitu pula Yohanes dan Injil yang ditulisnya banyak menimbulkan tanda tanya yang besar. Apalagi, pada detik-detik terakhir kehidupannya, Yohanes banyak bergelut dengan filsafat dan ide pemikiran Helenik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Injil-Injil yang beredar saat ini jauh dan tidak ada keterkaitannya sama sekali dengan wahyu ilahi. Memang dalam Injil-Injil yang sekarang terdapat beberapa bait yang datang dari ajaran al-Masih. Namun itu pun hanya sedekit sekali.
Dalam hal ini, Imam Ibn Hazm dalam kitab al-Milal wa an-Nihal juz 1 hal. 16, telah membahas berbagai macam kontradiktif dan pemalsuan yang terdapat di dalam kitab Taurat dan empat macam kitab Injil yang menjadi pegangan umat Kristen saat ini. Beliau menjelaskan bahwa ajaran Isa al-Masih telah dicampuradukkan dengan berbagai paham pemujaan berhala dan mitos-mitos Yunani dan Romawi.
Pada akhir uarain studinya, Dr. Abdul Ghaith menjelaskan bahwa pengikut umat kristen mengalami pasang surut sejalan dukungan masyarakat kristen terhadap para penguasa Romawi dan loyalitasnya pada patung kaisar. Mereka sangat patuh dan taat menjalankan penyembahan berhala. Hal itu dikarenakan mereka berada di bawah tekanan dan ancaman penguasa Romawi yang kejam dan keji.
Pada perkembangannya, para pendeta Kristen memasukkan hal-hal yang tidak masuk akal di dalam injil-injil mereka. Terkait hal ini, Ibnu Hazm mendiskusikan kerancuan dan kebohongan yang ada pada Injil. Ibnu Hazm mendeteksi ada tujuh puluh kebohongan dan kontradiksi yang terdapat didalam injil mereka. Di antara kandungan injil tersebut terdapat beberapa pasal yang memuat tiga kebohongan secara langsung, sehingga dapat menurunkan kredibilitas kitab injil meraka yang memang sudah sangat rendah.
B. 2. Kondisi Politik dan Sosial Umat Nasrani
Pada awal abad ke-6 M terjadi peperangan besar antara umat Kristen dari Syam dan penguasa Romawi dengan Umat Kristen dari Mesir. Para penguasa Romawi diwakili oleh kelompok Milkaniyah, sedangkan masyarakat Kristen Koptik diwakili oleh kelompok Manufusiah. Peperangan ini dipicu oleh adanya perbedaan seputar hakikat dan keadaan al-Masih. Kelompok Milkaniyyah berkeyakinan bahwa al-Masih memiliki wujud ganda. Sementara menurut kelompok Manufusiyyah, al-Masih hanya memiliki satu wujud.
Di Negara Romawi bagian Timur, kondisi masyarakat sudak sangat memperhatikan. Mereka tidak lagi menaruh kepercayaan padapenguasa yang adadan lebih menghormati penguasa asing. Kondisi dan situai semacam ini memicu adanya huru-hara dan pemberontakan. Pada tahun 532M di Konstantain, peristiwa ini menelan korban sekitar tiga ratus ribu jiwa. Bahkan upaya-upaya pemerintah  dalam meredam gejolak dan huru-hara yang terjadi semakin berlebihan dan tidak berperadaban.
Sementara itu, di Mesir kekaisaran Bizantium tengah mengalami krisi multidimensioanal. Pemaksaan agama, kediktatoran penguasa, dan kesewenang-wenangan pemerintah semakin menjad-jadi, sementara kemiskinan kian marak di tengah-tengah masyarakatnya. Kondisi serupa juga menimpa umat Kristen di wilayah suriah. Masyarakat Suriah sampai rela menjual anak-anaknya untuk dijadikan budak demi menutupi hutang-hutang yang memilit mereka. Demikian itu juga menimpa dengan masyarakat Eropa Barat dan Utara.
C. Kondisi Keagamaan, Politik dan Sosial Umat Majusi
1. Kehidupan
Sebelum Zoroast muncul, di Iran telah berkembang kepercayaan terhadap dewa Mithra, dewa Yema, dan dewa Asya. Kepercayaan tersebut secara umum menganut paham dinamisme, yakni mengkultuskan unsur-unsur alam. Kepercayaan ini bertahan hingga munculnya ajaran Zoroaster. Pada dasarnya, ajaran Zoroaster memerangi kepercayan dan penyembahan terhadap para dewa serta doktrin-doktrin penyembahan berhala.
Sepeninggal Zoroast, muncullah kelompok Majusi. Mereka adalah para penyembah api dan menyekininya sebagai tuhan. Mereka selalu memuja-muja api di dalam syair-syair keagamaan mereka. Pada abad ke-3 SM, di tengah-tengah masyarakat Majusi muncul seorang pembawa ajaran baru yang bernama Mani dan ajarannya terkenal dengan sebutan Manawiyyah. Mani mencoba memadukan ajaran Zoroaster, Kristiani, dan Disoniyah.
Pada tahun 276 M, Mani (pendiri aliran Manawiyyah) dibunuh oleh penguasa Persia yang bernama Bahra, putra Hormizd I. Bahram menilai bahwa Mani telah mengajak umat manusia untuk menghancurkan alam semesta karena salah satu ajarannya mengajarkan setiap umat manusia untuk bertapa serta meninggalkan segala hal yang terkait dengan proses berketurunan.
Kemudian pada tahun 478 M, muncul lagi sebuah ajaran baru yang disebarkan oleh Mzdak. Ajaran ini mendakwakan tentang kepemilikan bersama atas harta dan wanita. Pada mulanya, ajaran tersebut sempat diterima oleh Raja Iran saat itu, yaitu Raja Qubbadz. Namun setelah Qubbadz mulai mendapatkan beberapa titik ketidakbenaran dari ajaran tersebut, ia pun meninggalkan ajaran-ajaran tersebut. Bahkan, Qubbadz membunuh mazdak dan menumpas seluruh pengikutnya hingga ke markas-markas massa mereka.
Ajaran lain yang pernah muncul di Iran adalah ajaran Marquniyah. Ajaran ini mengajarkan faham dualisme. Di sisi lain, ajaran ini juga diwarnai oleh unsur-unsur ajaran Zoroaster dan Kristen yang pernah muncul sebeleumnya. Pencetus aliran ini adalah Marquni. Selain itu, di Persia terdapat ajaran lain yang bernama Disoniyyah yang digagas oleh Ibnu Dison. Ajaran Disoniah tidak jauh berbeda dengan ajaran Marquniyyah, bahkan memiliki kesamaan ajaran tentang adanya unsur ketiga selain cahaya dan kegelapan. 
2. Kondisi Politik dan Sosial Masyarakat Majusi
Di tengah-tengah terjadinya dekadansi moral yang menerpa masyarkat Persia, muncullah ajaran Majusi. Pada mulanya, ajaran ini berupaya mengentaskan dekadansi moral dan krisis sosial yang melanda Pesria. Namun sayang belum semat upaya itu terwujud, pada saat yang bersamaan muncul ajaran-ajaran lain semisal Manawiyyah dan Mazdakiyyah. Masyarakat Persia semakin terpuruk ke dalam kehidupan yang dipenuhi dekadansi moral, pertikaian, dan pertumpahan darah.
Di samping itu, tumbuh subur di masyarakat persia pengkultusan tooh-tokoh agama dan kaum bangsawan. Pemikiran seperti ini menghanghantarkan adanya kelas-kelas sosial (kasta) yang berbeda dan memiliki kedudukan tersendiri.
Singakt cerita, kehidupan bangsa Persia di bawah ajaran Majusi sama sekali tidak merasakan dan mendapatkan ajaran agama sebagai tuntunan, petunjuk dan pendidikan untuk melakukan berbagai bentuk kebaikan dan kebajikan dalamkehidupan mereka. Ditambah lagi penguasa-penguasa Bangsa Persia tidak pernah memberantas kebobrokan sosial yang terjadi, bahkan para penguasa lah yang melopori kebobrokan tersebut.
D. Kondisi Keagamaan dan Sosial Masyarakat China
1. Keagamaan
Pada abad ke-6 M, di wilayah  China tumbuh berkembang tiga ajaran agama; Lao-Tse, Konfisius, dan Budha. Ajaran lao-Tse berhaluan paganisme dan lebih menitik beratkan pada doktrin-doktrin moral serta  jarang mengajarkan ritual-ritual praktis terstentu. Hal ini berbeda dengan ajaran Konfisius yang lebih banyak mengajarkan ritual-ritual praktis daripada doktrin-doktri moral dan lebih cenderung memperhatikan urusan-urusan duniawi. Mereka  menyembah apa yang mereka kehendaki seperti pepohonan dan sungai-sungai.
Sedangkan ajaran Budha, saat itu pun hanya sedikit sekali ajaran-ajaran kesderhanaannya yang tersisa. Hal itu dikarenakan para Brahmana yang menentangnya telah berhasil menenggelamkannya jauh ke dasar bumi. Akibatnya, ajaran Budha pun perlahan-lahan berubah menjadi agama pemujaan terhadap berhala-berhala. Kemudian para pengikutnya memanifestasikan dengan membangun candi-candi untuk meletakkan patung-patung Budha. Walhasil, ajaran Budha ini perlahan-lahan semakin terkikis habis setelah mewarnai kehidupan sebagian umat manuisa.
2. Kehidupan Sosial Masyarakat China
Di dalam ajaran-ajaran keagamaan yang tumbuh di China, mayoritas agama hanya mengajarkan hikmah-hikmah dan contoh teladan dari para tokoh agama. Pasalnya ajaran-ajaran tersebut nyaris tidak memiliki cahaya petunjuk, pembangkit keimanan dan aturan-aturan syariat yang bisa digunakan untuk memecahkan berbagai problematika permasalahan.
Fakta dan realitas inilah yang melahirkan mitos penghormatan terhadap kaum laki-laki secara berlebihan dan penistaan terhadap keberadaan kaum perempuan. Terkait hal ini, masyarakat China mempunyai tradisi tersendiri dalam menyambut kelahiran seorang bayi. Mereka akan menggantungkan busur dan anak panah di pintu rumah sebagai tanda kelahiran bayi laki-laki. Akan tetapi ketika yang lahir bayi perempuan, mereka akan menggantungka pintalan benang di atas pintu rumahnya sebagai pertanda ketundukan dan kelemahan.
Di bawah pengaruh Budha-China beberapa negara banyak mempraktekkan pemujaan terhadap dewa-dewa dan penyembahan terhadap patung-patung. Mereka banyak merubah nilai-nilai persaudaraan yang diajarkan Budha dengan ritual baru dan dongeng-dongeng takhayyul. Selain itu, filsafat Konfisius pun tidak melarang penerapan siistem kasta sosial.
E. Kondisi Keagamaan dan Sosial Masyarakat India
1. Kehidupan keagamaan
Ajaran keagamaan yang berkembang di India saat itu adalah ajaran Brahmana. Para penganutnya melakukan banyak penyembahan terhadap berbagai bentuk kekuatan pengatur alam semesta yang telah mereka jelmakan dalam bentuk patung-patung.
Setelah sekian lama ajaran Brahmana dianut Bangsa India, ajaran Budha muncul dan perlahan menggantikan ajaran Brahmanan. Pada awalnya, agama Budha memfokuskan untuk melakukan perbaikan sosial dengan mengajarkan pengekangan hawa nafsu dan pengendalian diri dari kenikmatan duniawi. Namun dalam perjalannannya, ajaran moralitas Budha mengalami kemunduran dan penyimpangan-penyimpangan dari tujuan semula. Sejak itulah kepercayaan atau agama penyembahan berhala menyebar luas di masyarakat India.
2. Konidisi sosial
Para sejarawan sepakat bahwa pada permulaan abad ke-6 M,  India diliputi oleh berbagai bentuk dekadensi moral yang hampir  menyelimuti seluruh sisi kehidupannya. Di India pada saat itu terdapat sekelompok kaum laki-laki dari dari sebuah aliran keagamaan yang menyembah perempuan-perempuan telanjang, begitupun sebaliknya. Dalam bidang kehidupan sosial, kaum perempuan nyaris tidak berharga dan tidak memilki kehormatan sama sekali.
Pada  konteks sosial, ajaran agama Hindu membagi masyarakat ke dalam empat kasta, yaitu: pertama, Brahmana atau Brahmin, para pendeta dan agamawan, kedua, Ksatria; para panglima perang, ketiga, Waisya; para petani dan pedagang, dan keempat adalah Shudra; para pembantu atau orang-orang yang mengabdi kepada tiga kelompok di atas.
Menurut pandangan ajaran ini, kasta keempat tersebut yang sering mendapatkan perlakuan diskriminatif. Hal itu berbeda dengan kasta pada tingkatan lainnya seperti Brahmana yang kebal akan hukum. Itulah fenomena dan keadaan dunia saat itu. Baik diwalayah Arab maupun di luar jazirah Arab telah dilanda dekadansi moral yang sangat parah dan membutuhkan datangnya utusan Allah yang mampu mengentaskan dari segala kebobrokan itu.


















KOMENTAR

Nama

kajian,6,opini,8,sosok,1,
ltr
item
King Pantura: Keadaan Masyarakat Arab Saat Muhammad Lahir
Keadaan Masyarakat Arab Saat Muhammad Lahir
perjuangan Nabi Muhammad SAW membawa ajarannya dengan berbagai macam doktrin dan nilai-nillai moralnya dalam membangun peradaban manusia di sepanjang periode tersebut, maka akan kami paparkan dalam beberapa halaman berikut secara ringkas.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaAwOkhdK0CHdJCq9AOurLbKWAwfJjIbWcqv4DskQe4QF-0Idv-5ICOIZcddalmlRy3OWDccpL3KbwXRhZV68ACx4gRjXxXXg25LDFJbJ9fRUVfHslellR8qZ1AZBVrqEUGTk1zQoU5B0/s1600/arab.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaAwOkhdK0CHdJCq9AOurLbKWAwfJjIbWcqv4DskQe4QF-0Idv-5ICOIZcddalmlRy3OWDccpL3KbwXRhZV68ACx4gRjXxXXg25LDFJbJ9fRUVfHslellR8qZ1AZBVrqEUGTk1zQoU5B0/s72-c/arab.png
King Pantura
https://kingpantura.blogspot.com/2015/06/keadaan-dunia-saat-muhammad-lahir.html
https://kingpantura.blogspot.com/
http://kingpantura.blogspot.com/
http://kingpantura.blogspot.com/2015/06/keadaan-dunia-saat-muhammad-lahir.html
true
5709297237737066965
UTF-8
Muat Semua Postingan Tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batalkan balasan Hapus Oleh Home HALAMAN POSTINGAN Lihat Semua SARAN BUAT KAMU LABEL ARSIP PENCARIAN SEMUA POSTINGAN Not found any post match with your request Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lau $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 beberapa minggu lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI ADALAH PREMIUM Silakan berbagi untuk membuka kunci Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin ke clipboard anda Tidak dapat menyalin kode / teks, tekan [CTRL] + [C] (atau CMD + C with Mac) untuk menyalin