KingPantura- Hakekat
manusia menurut Ibn ‘Arabi “ tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada
manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara,
melihat,mendengar,berfikir dan memutuskan .Di dalam Al-Qur’an salah satu fungsi
penciptaan manusia adalah sebagai
“abdun” ,berasal dari fi’il madhi ‘abada
yg berarti tunduk dan patuh, maka dalam
konteks sebagai “‘abdun” manusia diciptakan oleh allah untuk tunduk dan patuh,sebagaimana
tercerminkan dalam firman allah yang Artinya :“Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Para ulama berbeda
pendapat mengenai ayat di atas, antara lain
Pertama, maknanya adalah sesungguhnya saya
(Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya tunduk dan beribadah
dan taat kepadaku. Hal itu karena saya telah memberi mereka akal untuk berfikir
dan sebab saya telah mengutus kepada mereka beberapa rosul yang menuntun mereka
kepada kebaikan. Maka sebagian mereka ada yang taat kepada Rosul dan mengikuti
apa yang dibawanya. Sehingga mereka beriman kepada rosul dan mengikuti petunjuk
yang hak/benar, maka akan mendapat keberuntungan Dan kebahagiaan. Dan sebagian
mereka ada yang berpaling dari ajakan rosul dan bahkan menentangnya, maka dia
merugi.
Kedua, maknanya adalah Saya tidak menciptakan jin dan Manusia kecuali untuk memutuskan agar beribadah kepadaku baik secara senang ataupun terpaksa. Karena seorang mukmin menjadi taat sebab usahanya dan orang kafir menjadi ingkar karena tunduk kepada kodhok-Nya. Sebagaimana firman Allah yang artinya “ Dan hanya kepada Allah makhluk yang ada di Langit dan bumi bersujud baik secara senang ataupun terpaksa kepada Allah.
Kedua, maknanya adalah Saya tidak menciptakan jin dan Manusia kecuali untuk memutuskan agar beribadah kepadaku baik secara senang ataupun terpaksa. Karena seorang mukmin menjadi taat sebab usahanya dan orang kafir menjadi ingkar karena tunduk kepada kodhok-Nya. Sebagaimana firman Allah yang artinya “ Dan hanya kepada Allah makhluk yang ada di Langit dan bumi bersujud baik secara senang ataupun terpaksa kepada Allah.
Ketiga, maknanya adalah “ Saya tidak
menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengetahui aku. Dikatakan hal ini
khusus bagi orang orang yang mengetahui Allah ; “bahwasanya dia menyembah-Nya,.
Sebagai
bentuk implementasi manusia sebagai ‘abdun ,allah mewajibkan manusia untuk
menjalankan ritual(ibadah).ibadah adalah merupakan bentuk pengabdian seorang
hamba kepada tuhannya.Penghambaan itu lebih didasari pada perasaan syukur atas semua nikmat
yang telah dikaruniakan oleh Allah padanya serta untuk memperoleh keridhaanNya
dengan menjalankan titah-Nya sebagai Rabbul ‘Alamin. Ibadah dipandang dari
jenisnya terbagi manjadi dua:
1.Ibadah Mahdoh
ibadah yang dari segi perkataan, perbuatan telah didesain oleh Allah SWT kemudian diperintahkan kepada Rasulullah untuk mengerjakannya. Seperti sholat fardu 5 kali, ibadah puasa ramadhan dan haji. Semuanya adalah bentuk paket dari Allah turun kepada Rasulullah kemudian wajib ditirukan oleh umatnya tanpa boleh menambah atau memperbaharui sedikitpun.Ibadah mahdhah atau ibadah khusus ialah ibadah yang apa saja yang telah ditetpkan Allah akan tingkat, tata cara dan perincian-perinciannya. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah : Wudhu, Tayammum, Shalat, Shiyam ( Puasa), Haji, Umrah.
ibadah yang dari segi perkataan, perbuatan telah didesain oleh Allah SWT kemudian diperintahkan kepada Rasulullah untuk mengerjakannya. Seperti sholat fardu 5 kali, ibadah puasa ramadhan dan haji. Semuanya adalah bentuk paket dari Allah turun kepada Rasulullah kemudian wajib ditirukan oleh umatnya tanpa boleh menambah atau memperbaharui sedikitpun.Ibadah mahdhah atau ibadah khusus ialah ibadah yang apa saja yang telah ditetpkan Allah akan tingkat, tata cara dan perincian-perinciannya. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah : Wudhu, Tayammum, Shalat, Shiyam ( Puasa), Haji, Umrah.
2. Ibadah Ghairu Mahdah
Ibadah ghoiru mahdoh : adalah seluruh perilaku seorang hamba yang diorientasikan untuk meraih ridho Allah (ibadah). Dalam hal ini tidak ada aturan baku dari Rasulullah.Dalam hadis Jarir ibn `Abdullah disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Ibadah ghoiru mahdoh : adalah seluruh perilaku seorang hamba yang diorientasikan untuk meraih ridho Allah (ibadah). Dalam hal ini tidak ada aturan baku dari Rasulullah.Dalam hadis Jarir ibn `Abdullah disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها
وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء, ومن سن في
الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من
أوزارهم شيء .
“Barangsiapa merintis jalan yang baik dalam Islam (man sanna
fîl Islâm sunnatan hasanah), maka ia memperoleh pahalanya dan pahala
orang-orang yang melakukannya sesudahnya, tanpa berkurang sedikit pun pahala
mereka; dan barangsiapa merintis jalan yang buruk dalam Islam (man sanna fîl
Islâm sunnatan sayyi-ah), maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang
melakukannya sesudahnya, tanpa berkurang sedikit pun dosa mereka.” (Lihat
antara lain: Shahih Muslim, II: 705, Hadis senada diriwayatkan oleh 5 imam
antara lain, Nasa’i, Ahmad, Turmudi, Abu Dawud dan Darimi).
Memperhatikan uraian singkat di atas dapat di
tegaskan bahwa ibadah secara umum merupakan tindakan yg konkret dlm mendekatkan
diri kepada allah. Dekat dengan allah tidaklah dipahami dekat secara fisik
melainkan kedekatan yang bersifat immateri atau spiritual,dimana seorang
makhluk merasa dekat akan kemurahan dan kebaikan allah swt sehingga menjadi
pendorong untuk berinteraksi dgn tuhannya dalam bentuk pengabdian yg dilandasi
akan rasa pengagungan,keikhlasan,dan penyerahan sehingga dapat mereguk
kenikmatan beribadah kepada allah sebagai puncak akstase hubungan horizontal.
Setelah memaparkan hakikat
diciptakannya manusia sebagaimana di jelaskan di atas maka dapat kita
simpulkan: Al-Qur’an menjelaskan bahwa salah
satu fungsi penciptaan manusia di dunia ini adalah sebagai ‘Abd.
2. Manusia adalah di ciptakan Allah
untuk mengabdi. Mengabdi kepada allah dengan melaksanakan ibadah yang di
wajibkan kepadanya. Dalam beribadah harus dilandasi
dengan rasa tunduk,pasrah sehingga merasakan akan puncak kenikmatan dalam
beribadah
Daftar Pustaka
Tafsir ibnu kastir
’Izzudin ‘Abdussalam,maqoshidul ‘ibadah
KH.Sa’id Aqil Siroj Dialog Tasawuf
Al Rasyidin ,.dan
Nizar,Samsul Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta :Ciputat Press,2002)

KOMENTAR