KingPantura- Manusia merupakan makhluk Allah yang diciptakan secara
sempurna. Allah memulyakannya dengan dibekali daya hidup, pengetahuan,
kehendak,dan kekuatan berpikir. Di dalam al-Quran salah satu fungsi
penciptaan manusia adalah sebagai “abdun”,
berasal dari fi’il madhi ‘abada’ yang berarti tunduk dan patuh, maka dalam konteks ini, manusia
diciptakan oleh Allah untuk tunduk dan patuh .
Al-qura’an dengan tegas menjelaskan tentang tujuan
diciptakannya manusia, sebagaimana tercerminkan dalam firman Allah: “ Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Ad-dzariyat: 56). Patuh
dan tunduk bisa direpresentasikan dengan menjalankan ibadah yang dibebankan
kepada manusia. Ibadah merupakan bentuk pengabdian seorang hamba kepada
tuhannya. Pengabdian itu lebih
didasari pada perasaan syukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh
Allah padanya serta untuk memperoleh keridhaan-Nya dengan menjalankan
titah-Nya.
Ibadah secara
umum merupakan tindakan yang konkrit dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dekat
dengan Allah tidaklah dipahami dekat secara fisik melainkan kedekatan yang
bersifat immateri atau spiritual, dimana seorang makhluk merasa dekat akan
kemurahan dan kebaikan Allah SWT. Hal itu akan menjadi pendorong untuk
berinteraksi dengan tuhan dalam bentuk pengabdian yang dilandasi akan rasa
pengagungan, keikhlasan, dan penyerahan. Sehingga dapat mereguk kenikmatan
beribadah kepada Allah sebagai puncak ekstase hubungan horizontal.
Naluri Sosial
Namun demikian, manusia
sebagai makshluk sosial tidak akan berarti apa-apa kalau ia hanya mementingkan
urusan pribadi saja (baca: ibadah). Ia harus berinteraksi dengan
individu-individu lainnya dalam sebuah masyarakat. Sebab, sehebat dan
sesempurna apapun seseorang, ia tidak akan bisa terlepas dari ikatan dengan
orang lain.
Manusia dan lingkunganny
seperti dua sisi mata uang, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Keduanya
saling membutuhkan; martabat individu diangkat dan terbentuk oleh lingkungan
sekitarnya, begitupula lingkungan diorganisasi dan diatur oleh
individu-individunya. Meminjam istilah Muhammad Iqbal bahwa manusia tidak hanya
berdimensi personal, tetapi juga berdimensi sosial.
Atas dasar tersebut, manusia
juga harus mengabdikan dirinya kepada
sesama (baca: makhluk Allah). Dalam konteks ini, pengabdian tersebut bisa
dicerminkan dengan sikap saling membantu, tolong menolong dan kerja sama dalam membina masyarakat yang
utuh dan sejahtera. Karena manusia diberi karunia oleh Allah memiliki naluri
sosial yang mendorong untuk berinteraksi dengan sesama makhluk tuhan.
Hal itu senada dengan seruan Allah kepada
manusia untuk menumbuhkan sikap saling peduli dan tolong menolong dalam
menjalani kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Saling
tolong menolonglah diantara kalian semua dalam kebaikan dan takwa dan janganlah
tolong menolong dalam hal dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah:2).
Ayat di atas merupakan
stimulus agar manusia berusaha menciptakan
kesejahteraan dilingkungannya dengan membangun sistem yang membawa
kepada kemakmuran dan jauh dari nilai-nilai egoisme pribadi atau kelompok. Dengan
demikian, akan terbentuk pribadi insan kamil, manusia yang mampu menjalankan perannya dengan
seimbang sebagai pengabdi tuhan dan
sesama makhluk.

KOMENTAR